Saturday, June 20, 2015

Peradaban Hasil Kolonialisme di Indonesia


Kolonialisme memberi kontribusi tersendiri terhadap peradaban di Indonesia. Era kolonialisme sendiri di Indonesia dimulai pada sekitar abad ke-15 hingga abad ke-19. Sekitar 400 tahun sudah Indonesia dijajah bangsa lain. Hal ini tentunya sedikit banyak berpengaruh terhadap peradaban yang berkembang di Indonesia.
Sebelum membahas lebih jauh lagi mengenai peradaban yang muncul atau yang berubah pasca era kolonialisme, akan lebih baik jika diketahui dulu apa yang dimaksud dengan “kolonialisme” dan “peradaban”.Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, “kolonialisme adalah penguasaan oleh suatu negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksud untuk memperluas  negara tersebut”.  Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kolonialisme adalah suatu paham tentang penguasaan yang dilakukan oleh sutau negara yang lebih kuat atau lebih berkuasa kepada bangsa lain yang lebih lemah secara keseluruhan baik sumber daya alam maupun manusianya guna memperluas daerah kekuasaannya. Era kolonialisme sendiri dikenal dengan istilah “masa penjajahan”. Sedangkan istilah “peradaban”, berasal dari kata “adab” yang artinya budi pekerti yang halus atau akhlak yang baik. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, peradaban ialah kemajuan dalam kecerdasan dan kebudayaan secara lahir dan batin. Jadi, peradaban ialah kemajuan baik kecerdasan manusia maupun kebudayaannya yang terjadi dari masa ke masa akibat dari lingkungan sekitarnya yang berkembang. Dalam bahasa Inggris, peradaban dikenal dengan istilah “civilization” yang berasal dari kata “civil” yang berarti masyarakat.
Masinambow (dalam Christomy dan Yuwono, 2010) memaparkan jika istilah “civilization” dianalisa, maka dapat dibedakan menjadi dua dimensi yang berbeda. Dimensi pertama ialah adanya kehidupan kota yang tingkat perkembangannya lebih tinggi dari pada kehidupan desa dan dimensi yang kedua ialah adanya dorongan pengendalian oleh masyarakat. Hal itu benar adanya, jika kira melihat lagi secara seksama, kehidupan di kota lebih berkembang ketimbang di desa. Perkembangan ini tak lain akibat dari lingkungan yang ada di kota lebih bervariasi dengan berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan dan berbagai tempat sehingga muncul dorongan dari masyarakat tersebut untuk berkembang guna mengatasi polemik-polemik yang timbul akibat keragaman masyarakat tersebut.
Setiadi, et al (2009) menjelaskan bahwa peradaban merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan bagian-bagian atau unsur-unsur kebudayaan yang perkembangannya telah mencapai tingkat tertentu yang tercermin dalam tingkat intelektual, keindahan, teknologi, dan spiritual yang terlihat dari masyarakatnya. Jadi, peradaban dapat juga dikatakan sebagai kebudayaan yang sudah maju mencapai tingkat tertentu dan perkembanganya tidaknya singkat melainkan  ini merupakan hasil dari evolusi  yang berlangsung lama dan bermakna.
Peradaban di Indonesia ini telah berkembang dari waktu ke waktu. Baik yang terlihat kasat mana (fisik) maupun yang tidak terlihat (non-fisik) sepeti nilai-nilai dan norma. Perkembangan ini terjadi tidak lepas dari pengaruh penjajah pada masa kolonial. Masa yang dimulai sekitar 400 tahun silam, dimana negara-negara di Eropa melirik Asia (salah satunya Indonesia) sebagai tempat perdagangan. Namun, mereka melihat kehidupan di kota tujuan sangatlah primitf sehingga munculah dorongan dari dalam diri mereka untuk menyebarkan dan menanam peradaban yang mereka miliki. Tentu saja mereka melakukannya dengan cara yang salah, dengan menguasai sumber daya yang ada baik alamnya maupun juga manusianya. Sehingga, perilaku mereka, bangsa barat, dinilai sebagai bentuk kolonialisme.
Sudah menjadi barang tentu suatu peristiwa meninggalkan jejak. Jejak yang ditinggalkan era kolonialisme ini memang sangat teramat menyakitkan untuk diulas kembali namun tetap ada sisi baik dari setiap peristiwa yang terjadi. Jika ditelaah kembali, peradaban Indonesia menjadi semakin berkembang dengan adanya masa kolonial. Harus diakui, para penjajah ini pun juga meninggalkan peninggalan-peninggalan yang bermanfaat bahkan sangat bermanfaat dalam perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia hingga masa sekarang ini. Berikut ialah bentuk peradaban hasil kolonialisme di Indonesia:



1.     Infrastruktur
Perkembangan peradaban manusia tidak bisa terlepas dari infrastruktur. Belanda terkenal dengan bendungan yang merupakan sebuah infrastruktur yang sangat bermanfaat dalam berbagai sisi kehidupan (seperti dalam pertanian untuk menyalurkan air sehingga sistem irigasi dapat berjalan lancar dan juga teknologi sebagai pembangkit listrik tenaga air). Pada masa penjajahan Belanda, Indonesia memang diperbudak untuk membangun berbagai infrastruktur yang salah satunya adalah bendungan ini. Namun pada saat yang bersamaan, secara tidak langsung masyarakat Indonesia mendapatkan ilmu pengetahuan baru tentang bagaimana membuat bendungan yang terbukti kuat dan masih bisa digunakan hingga sekarang ini. Pengetahuan ini lah yang mendasari beberapa ilmuan Indonesia untuk bukan hanya mengadaptasi namun juga mengembangakan ilmu pembuatan bendungan sehingga dapat diaplikasikan dalam pembuatan bendungan di daerah lain. Selain bendungan, jalan raya merupakan salah satu infrastruktur yang berkembang pada masa itu. Contohnya “Jalan Daendles”, jalan tersebut dibangun Belanda untuk memperlancar urusan mereka. Sebelumnya, jalanan masih berupa tanah dan bebatuan yang susah untuk dilewati namun setelah dibuatnya jalan ini mobilisasi menjadi lebih cepat. Sepeninggalan Belanda, masyarakat sebagai pengguna jalan pun sadar akan manfaat dari “jalan raya” sehingga jalan raya pun dibuat diberbagai tempat dipenjuru tanah air. Tidak hanya itu, perkembangan peradaban ini pun menjadi cukup pesat yang ditandai dengan adanya jalan laying, terowongan dan juga jalan bebas hambatan.
2.     IPTEK
Masa koloni Belanda pun memberi dampak positif tersendiri dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pada masa itu Indonesia diperkenalkan dengan sistem persenjataan, alat tempur, alat transportasi dan juga sistem komunikasi. Belanda melalukan alih teknologi yang berasal dari negara-negara barat. Masyarakat diajarkan cara menggunakannya secara langsung oleh mereka. Perkenalan dengan peradaban baru ini (dulunya bambu runcing) meningkatkan semangat masyarakat untuk melawan dan meraih kemerdekaan. Walaupun memang pada masa itu informasi yang diterima masih sangat terbatas karena batasan-batasan yang dilakukan pihak Belanda namun hal tersebut tidak menurunkan semangat juang masyarakat Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.
3.     Norma dan Nilai
Norma-norma dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan fondasi peradaban bangsa Indonesia. Pancasila dibentuk atas hasil pemikiran yang tidak sebentar. Pancasila dibentuk atas dasar peristiwa yang dialami Indonesia selama bertahun-tahun lamanya. Belajar dari pengalaman (pada masa penjajahan Belanda-Jepang), Indonesia sampai pada peradaban yang semakin berkembang sehingga munculah Pancasila yang dapat mempersatukan bangsa. Nilai dan Norma yang terkandung dalam Pancasila menjadi patokan peradaban bangsa Indonesia untuk maju, bersaing dan terus berkembang.
4.     Sistem Hukum
Sebagai mantan negara koloni Belanda, sistem hukum yang ada di Indonesia mengadopsi sistem hukum Belanda. Hampir keseluruhan sistem hukum yang ada di Indonesia berasal dari Belanda. Namun, sepeninggalan Belanda, ada beberapa sistem hukum yang diperbaharui dan direvisi guna menyesuaikan dengan kondisi bangsa Indonesia sekarang. Hal ini memperlihatkan perkembangan peradaban bangsa Indonesia dari perspektif hukum.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa era kolonialisme tidak hanya memberi dampak negatif bagi bangsa yang terjajah. Terbukti dari paparan di atas, ada hal baik yang didapatkan bangsa Indonesia pasca dijajah Belanda. Selalu ada sisi postif yang didapatkan dari setiap peristiwa dan tergantung bagaimana kita “bangsa yang beradab” memaknai peristiwa tersebut.

Referensi
Masinambow, E. K. M. Teori Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Budaya. dalam Christomy T dan Untung Yuwono (Eds). 2010. Semiotik Budaya. FIBUI: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya
Setiadi, Elly M., et al. 2009. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Jakarta: Kencana
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional

Yandianto. 1997. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Bandung: M2S Bandung

No comments:

Post a Comment